Sunday, July 3, 2011

Kontes Wanita Tanpa Bra

"Amatir Toples Kontes Reality Show ala Komunitas Malam"


Sebuah kontes penari toples yang dilakukan oleh penari amatiran menjadi menu utama sebuah private party di sebuah karaoke VIP. Rule-nya, mereka menari dengan membuka baju hingga no-bra. Sebuah 'kreasi' sekumpulan lelaki petualang malam yang merasa jenuh dengan sajian-sajian club yang dirasakan monoton dari itu ke itu juga. Saat kontestan menari no-bra, tak boleh ada yang menyentuh. Kalau menyentuh, dikenakan denda Rp1 juta. Tapi tak ada yang kuat untuk tak menyentuh.
Suatu malam. Usai konvoi dengan dua mobil Grand Vitara dan CR-V, sepuluh lelaki memasuki sebuah club malam di Jakarta Pusat. Begitu masuk club, mata semua lelaki itu menyapu seluruh lounge yang berada dilantai IV. Mata mereka menyelidik seperti mencari sesuatu.

Suara musik dari home band yang beraksi diatas stage di sudut lounge melengking kencang, menyuarakan kembali tembang kondang, 'Kisah Yang Tak Sempurna' milik SamSon. Namun kelompok lelaki itu seperti tak peduli dengan aksi band yang berusaha menarik perhatian tamu-tamu yang ada di lounge. Karena mata kesepuluh lelaki itu masih jelalatan kesana kemari.

Yang dicari serombongan lelaki itu adalah hal-hal yang berbau hedonis. Tak urung, ketika mereka melihat sebuah table ada sekelompok wanita-wanita dengan penampilan mencolok dan sexy, para lelaki itu saling bertanya diantara mereka. Dengan bisik-bisik satu sama lain, bertanya, siapa wanita-wanita cantik itu di sebuah meja itu?

Itulah gambaran sebuah komunitas lelaki pemburu hiburan malam plus-plus. Sudah bukan hal asing, lelaki pemburu hiburan malam plus-plus memiliki komunitas dalam setiap melakukan petualangannya. Petualang malam jarang ada yang berburu di tengah kehidupan malam sendirian saja. Paling tidak ada satu teman yang menemani sehingga mereka menjadi berdua. Tapi kebanyakan mereka berkelompok lima orang hingga sepuluh orang lebih.

"Kalau ramai-ramai lebih asyik. Kalau cuma beberapa orang mudah bete, apalagi kalau sendirian, wah, lebih baik di rumah aja," tutur Steven (bukan nama sebenarnya), ketua kelompok lelaki yang diilustrasikan diatas.

Steven mengaku kelompoknya sudah ada sejak tiga tahun belakangan. "Sebagian besar dulunya teman kuliah. Waktu masih kuliah dasarnya memang suka jalan malam. Ketika punya penghasilan, kesukaan jalan malam semakin menjadi-jadi," lanjut Steven.

Yang dilakukan kelompok seperti kelompok Steven saat menyambangi sebuah club tujuannya sangat bervariasi. Mulai dari semata-mata hanya minum dan makan, cuci mata, karaoke, mencari sehat, misalnya, berendam, steam – sauna ke spa dan reflexi, pijat. Atau dikombinasi dengan perilaku hedonis. Tak sedikit pula yang memang jelas-jelas mencari wanita sebagai teman di ranjang.

Namun sebagaimana manusia pada umumnya yang mudah jenuh, demikian juga kelompok Steven. Mereka merasakan kejenuhan dengan berbagai hiburan malam yang itu – itu juga. Sampai suatu kali mereka menemukan hiburan kreasi sendiri yang dinilai cukup kreatif dan menghibur. Dibuat spontan dan natural.

"Kita-kita kan sering menyewa striptis sambil karaokean. Tapi ternyata lama-lama membosankan juga. Kita merasakan, para penari striptis itu seperti robot saja gerakannya. Penari striptisnya memang ganti-ganti, tapi gerakan dan servis-nya itu-itu juga. Bosan," tutur Steven.

No comments: