Saturday, July 9, 2011

Striptis Bole Diraba - Penjaja Cinta

STRIPTIS BOLEH DISENTUH
Club Penjaja Cinta Semi Pro

Sajian hiburan malam beraroma hedonis disuguhkandi sebuah club baru di kawasan Selatan. Sedikit mengadopsi sajian yangditawarkan club di kawasan Kota, club ini menampilkan striptis yang dapatdiraba tamu-tamu.

Sajian hiburan malam beraroma hedonis disuguhkandi sebuah club baru di kawasan Selatan. Sedikit mengadopsi sajian yangditawarkan club di kawasan Kota, club ini menampilkan striptis yang dapatdiraba tamu-tamu. Menghibur diri di sini semakin lengkap dengan hadirnyawanita-wanita cantik dan seksi di antara tamu-tamu. Meski tidak secaraeksplisit dijajakan, para wanita ini dapat diajak one night stand. Beberapa di antara mereka bahkan berprofesisebagai model.

HUJAN yang turun malam itu seperti tak ada habis-habisnya. Terkadang deras, laluberubah rintik-rintik, lalu deras lagi, begitu seterusnya. Tak heran jikabanyak genangan air 'menghiasi' jalan-jalan di ibukota. Hujan deras sebentarsaja memang sanggup membuat semrawut lalu-lintas. Dan kemacetan pun kian menjadisahabat karib bagi para pengemudi. Hal inilah yang turut dirasakan oleh Reno,sebut saja demikian, marketing manager yangmengabdikan skill-nya pada sebuahperusahaan minyak swasta. Reno tergolong sosok yang cool, dan biasanya selalu santai dalam melakukan apapun, termasukmengemudi

Namun khusus malam itu Reno rupanya lain dari biasanya. Ia tampaktergesa-gesa, raut wajah yang biasanya selalu tenang kini menyimpan ronakegelisahan. Kalau biasanya ia duduk santai di belakang kemudi saat menghadapijalan macet, malam itu tak henti-hentinya ia melirik arloji Guess perak yangmelingkar di tangan kirinya.

"Wah, sudah jam 10, tapi masihmacet aja," keluhnya perlahan. Sebuahkeluhan yang jarang terucap oleh seorang Reno.

"Jangan lupa ya nanti malamdatang, acaranya spesial banget. Yah, hitung-hitung farewell party gua lah sebelum pindah," sebuah kalimat singkatkembali mengiang di telinga Reno. Ajakan itu tadi pagi dituturkan oleh sobatkentalnya, Jimmy, sebut saja demikian, byphone. Saat ini Jimmy punya kedudukan penting di perusahaan provider telekomunikasi. Jabatannya sedang menanjak, mengingat reputasi provider-nya yang juga kian meningkat dimasyarakat.

Tapi malam ini Jimmy bakal mengakhir kariernya di tempat tersebut. Sesuatuyang membuat Reno tak habis mengerti kenapa Jimmy memutuskan untuk berhenti,sementara posisinya dalam kondisi mapan. "Guanggak betah, rasanya seperti diperbudak tanpa henti. Apa gunanya gajitinggi tapi nggak enjoy?" Begitujawaban Jimmy saat ditanya beberapa minggu silam.

Ternyata Jimmy memilih membangun usaha sendiri, sebuah bisnis travel. Wajarjuga, sejak dahulu ia memang hobi traveling. Berbeda dengan Reno yang lebihsenang clubbing dan menggaulikehidupan malam plus-plus. Lalu acaraapa sesungguhnya yang dimaksud Jimmy dengan istilah 'spesial banget'? "Kenapadia jadi lebih tahu daripada gua ya?"batin Reno.

Rasa penasaran mendesak Reno untuk memacu kencang sedan mewahnya ke arahselatan Jakarta, ketika lepas dari kemacetan. "10 menit lagi sampai nih," ujarnya pada Jimmy lewat handphone. Tak sampai 10 menit, sekitarpukul 11 lewat 15 menit, Reno telah tiba di tempat tujuan. Ia pun berlarimenembus gerimis, memasuki ruangan plaza mewah yang bersih dan beratap tinggi.Arsitektur khas Eropa terlihat jelas mempengaruhi pilar-pilarnya. Club yang iadatangi terdapat di dalam plaza mewah ini.


DAPAT DISENTUH. Dentuman dancemusic khas Selatan menyergap ketika Renomemasuki ruangan club. Tak seperti club lainnya, pintu club ini ditutup rapatoleh security sesaat setelah iamasuk. Pantas saja jika dari luar tidak begitu terdengar gemuruh musik sepertiyang ditemui di sejumlah club pada umumnya.

Ruangan club ini cukupbesar, setidaknya untuk ukuran club Selatan. Tata lampunya pun begitu dinamis.Meningkahi gerakan tubuh clubbers yangtenggelam dalam hentakan dance music. Sound system-nya pun cukup memadai.Sayangnya, jarak dari pintu ke dalam tak terlalu jauh, sehingga kalau sedangramai, cukup menghalangi tamu yang hendak masuk.

Posisi tiang besar yangberada di depan pintu masuk pun cukup menjadi penghalang. Tiang ini menjadi tempatbersandar bagi sejumlah tamu yang tak kebagian tempat duduk. Kondisi ini punturut menghalangi tamu yang akan masuk. Tiang ini pun terlalu dekat dengan bardi mana terdapat kursi-kursi tinggi di depannya.

Begitu melepaskan diri dari sesaknya tamu di depan pintu masuk, Reno punmulai menduga-duga di mana posisi Jimmy. Namun sebelumnya dia menyempatkan dirimelongok ke arah DJ booth. Rupanyaseorang DJ wanita cantik sedang sibuk mengolah turntable. Sekelumitsenyum mengembang di bibir Reno melihat salah satu DJ favoritnya tersebut yanglarut dalam mix musik.

Sejurus kemudian, pandangannya dialihkan ke arah table memanjang di dekat bar. Di atas meja itu duduk dua orangwanita tanpa mengenakan busana sama sekali. Mereka duduk layaknya model yangsedang berpose. Satu kaki diluruskan, satunya menekuk, sedangkan tubuhditegakkan dengan style menantang. Sontaksaja dirinya jadi kaget meskipun tidak diekspresikan secara berlebihan.

Kekagetan semakin bertambah karena tamu-tamu di sekitar meja tersebut tetapduduk santai. Minum dan ngobrol seperti biasa. Namun karena memang masih normal, sesekali mata mereka melirikjuga ke arah 'patung' telanjang yang duduk sangat dekat dengan mereka. Tapi takdemikian dengan tamu-tamu yang tidak kebagian tempat duduk di dekat sangpatung, mata mereka tak henti-hentinya menatapi. Sementara dua 'patung' tersebuttampak tak menunjukkan ekspresi berarti.

Saat kaget itulah sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar darisamping. "Woy.., ada yang bengong nih.., hahaha..," teriak Jimmy yang datang dari toilet sambil menepukpundaknya. Reno tersentak sesaat, lalu balas tertawa. "Yuk kita ke sana, acaranya sebentar lagi mulai," ajak Jimmy sambilmenunjuk ke ruangan VIP bersofa merah.

Reno membatalkan niatnya untuk duduk ketika melihat kaki-kaki jenjang sexy dancer melangkah ke arah dance floor. Mimiknya menunjukkan keterkejutansaat melihat sexy dancer yangberjumlah lebih dari 15 orang. Tubuh mereka hanya ditutupi selembar kain putihtipis. Sambil menggenggam segelas whiskeycola yang baru disodorkan Jimmy, Reno pun berbisik di telinga sohibnya itu.

"Banyak banget Jim, mau ngapainmereka?" tanya Reno.

"Lihat saja nanti," jawabJimmy santai. Pria satu ini memang paling senang berteka-teki.

Di dance floor belasan sexy dancer terlihat bergerak seragamdan teratur. Tangan mereka masing-masing memegang satu botol minum jenis whiskymerek tertentu. Ketika musik berubah, mereka mengganti gerakannya menjadi lebihcepat dan wild. Dan ketikabotol-botol minuman mulai mereka guyurkan ke tubuhnya masing-masing, maka takayal kain tipis tadi menjadi basah dan transparan. Teriakan histeris dari crowd pun menjadi-jadi, suasana kianpanas. Gerakan tubuh para sexy dancer punkian liar, tatapan mereka mampu membuat darah mengalir lebih cepat.

Tangan-tangan dancer perlahantapi pasti mulai membuka kain basah yang menutupi tubuh mereka. Tak lamakemudian, sudah ada belasan tubuh topless bertebaran di dance floor. Denganhanya mengenakan G-string hitam,mereka mulai menggeliat, menunjukkan gerakan-gerakan super sensual. Karenaberjumlah banyak, sebagian dari mereka memilih aksi gabungan. Ada yang bergaya69, ada yang memilih style threesome,ada juga yang tiduran berdua saling tindih-menindih.

Kegairahan tak cukup sampai di situ. Suasana kontan meledak saat belasan topless dancer tersebut mendatangi paratamu. Sasaran pertama adalah VIP area, yang tidak lain adalah tempat Reno danJimmy berada. Dua dancer mengapitReno dari arah depan dan belakang. Yang dari depan berusaha menarik leher Renoke dadanya yang polos.

Sementara yang dari belakang memeluk sambil menciumi tengkuknya. Sebagai orangyang terbiasa bergaul di lingkungan hedonisme Jakarta, Reno terlihat santaisaja menerima perlakuan itu. Rasa kaget justru muncul manakala melihat ke arahJimmy.

Persis di sebelahnya, seorang dancer mendudukkantubuhnya di pangkuan Jimmy. Tidak sekedar duduk, ia pun terus bergerak layaknyaseorang yang sedang making love. Rautwajahnya terlihat menikmati apa yang sedang ia lakukan. Yang membuat Reno kagetadalah tangan Jimmy yang begitu bebas menyentuh bagian tubuh dancer tersebut. Ya, benar-benar bebas. Ia hanya berfikir kalau sobatnya itu mungkinsedang nekat.

Namun dugaan itu pun pupus ketika ia melihat ke beberapa tamu lain disekitarnya. Tak berbeda jauh dengan Jimmy, tamu-tamu lain pun begitu bebasmenyentuh hampir seluruh bagian tubuh sang penari erotis yang nyaris tanpabusana itu. Dan yang disentuh pun tak sekalipun menolak atau menepistangan-tangan 'ramah' para tamu. Reno pun kini tak ragu-ragu lagi. Ia kinipaham istilah 'spesial banget' yang dimaksud Jimmy lewat telepon tadi siang.


SEMI PRO. Jika pada awalnya Renoragu-ragu atas undangan Jimmy, sangatlah wajar. Sebagai 'orang malam' yangselalu meng-up date info terbaru tentang aktivitas hiburanberbau hedonis, Reno sama sekali tak menyangka jika 'hiburan' yang tengahdinikmati malam itu berlangsung di Selatan. Ya, sebuah club yang berlokasi didaerah Selatan yang selama ini justru dianggap 'clear'. Kalau pun ada, itu punsebatas private event yang diadakan untuk kalangan terbatas. Tapi padamalam itu, dibungkus lewat event 'grand opening', aroma hedonis kental terasa.

Pemandangan yang disaksikan serta dialami Renodi atas bukan satu-satunya menu hedonis yang ditawarkan club ini. Tak lamasepeninggal dia dan rekan-rekannya menikmati sajian yang mengusik hasratlaki-lakinya, tempat mereka didatangi beberapa wanita cantik berusia muda. Parawanita itu diantar seorang pria berkaca mata yang ditengarai sebagai germo atausemacam itu. Sama halnya dengan yang dia temui jika sedang menyambangi sebuahclub hedonis di kawasan Kota.

"Selamat malam, Bos. Selamat datang di clubkami. Barangkali untuk menghilangkan jenuh, PR-PR kami dapat menemani waktusantai Bos-Bos semua," katanya tanpa basa-basi.

Seolah sudah di-setting sebelumnya, para wanita yang memang enak dilihat itu langsung mengambil posisiduduk berpasangan. Usai memperkenalkan diri mereka pun terlibat pembicaraanberagam topik. Mulai dari sekadar basa-basi hingga menjurus urusan ranjang. Merekapun terlihat aktif menuangkan minuman ke botol-botol kosong, persis sepertiyang dilakukan ladies escort (LE) di ruangan karaoke.

Menuangkan minuman kepada tamu-tamu yang ditemanimemang menjadi salah satu tugas mereka. Seperti halnya LE, wanita-wanita yangdisebut public relation (PR) ini pun turut minum bersama tamu-tamu yangmereka temani. Bedanya, jika LE dipesan oleh tamu-tamu, para PR ini justruditawarkan oleh club. Tidak ada tarif khusus untuk jasa mereka, seperti yangberlaku jika tamu ingin menggunakan jasa LE. Meski 'gratis' tamu tetap berhakmenolak.

Tapi di sinilah persoalannya. Bagaimana mungkinReno, Jimmy dan teman-temannya menolak? Bukankah selama ini mereka sengajamencari hiburan yang beraroma hedonisme, dan berlabuh di ranjang kenikmatan?

Kini, apa yang mereka cari selama ini berada didepan mata. Baru saja mereka dibuat penasaran dengan pemandangan dan kesempatanmenyentuh penari berbusana minim. Lalu, ditemani wanita-wanita cantik penggodaiman. Siapa yang berani menolak? Toh uang bukan masalah karena mereka memilikianggaran khusus untuk melakukannya.

Yang membuat Reno tak mampu menolak ditemanijustru kehadiran sejumlah model di sana. Acara malam itu juga diisi penampilansejumlah model, mulai dari model cat walk hingga foto model yang menghiasisejumlah majalah hiburan dan gaya hidup pria. Beberapa di antara model itucukup familiar wajahnya bagi Reno. Sayangnya, tak satu pun di antara mereka ituyang duduk di ruangan Reno. Padahal keinginannya untuk dekat dengan model sudahlama dipupuk dan belum terlaksana hingga sekarang.

"Minta tukar boleh nggak?" tanya Reno kepadapria berkaca mata yang tadi membawa PR-PR itu.

"Maksud Bos gimana?" balas sang pria.

"Di ruangan VIP sana saya lihat ada model yangmenemani mereka. Di sini kenapa nggak ada, ya?" katanya setengah berbisik

"O, itu masalahnya. Yang di samping Bos inimodel, lho…" katanya setengah berbisik juga. "Belum lama ini dia muncul disalah satu majalah. Memang sih belum begitu terkenal, tapi tunggu saja, taklama lagi dia bakal top." Lalu, pria itu menunjuk beberapa wanita yang ada disitu yang juga berniat menekuni foto model ataupun model catwalk.

Mendapat penjelasan seperti itu, Reno punsenang. Apalagi setelah dia tahu pria berkaca mata itu salah seorang yangmenduduki posisi strategis di sana. Saat Reno mengutarakan niatnya untukmem-booking PR tersebut, pria berkaca mata itu tak terang-terangan mengiyakan. Iatidak memfasilitasi dan tidak pula menolak. Boleh jadi inilah gaya layanan semiprofesional yang ingin dibangun di sini. Bagaimanapun, club Selatan tidakmemberlakukan cara-cara yang vulgar dengan menjajakan wanita pemuas birahi. Tapidengan gaya semi profesional ini keberadaan mereka turut memberi warna barubagi club ini sebagai hedonis.

Artinya, aktifitas dan transaksi hedonis terjadikarena ada pihak yang memfasilitasi, yakni club. Namun, karena club tidakmemiliki tempat untuk melakukan eksekusi atau aktivitas hedonisme, akhirnyasegala sesuatu dikembalikan kepada tamu maupun sang PR. Kalau tamu berminat dansang PR pun bersedia, urusan selanjutnya diserahkan kepada mereka. Termasuksoal harga, karena pria berkaca mata tadi tidak sekalipun menyebutkan angkajika tamu berniat mem-booking sang PR.

"Tapi mereka baru dapat meninggalkan clubsetelah pukul 02.00," tutur pria berkaca mata itu tanpa mau menyebut alasannya.

Tak dipungkiri, dengan hadirnya mereka di sanamembuat spending money tamu berjalan kencang. Namun dengan semakinkuatnya pengaruh minuman alkohol yang masuk ke dalam tubuh otomatis membuattamu harus menahan diri. Soalnya, kalau terlalu mabuk bukan tak mungkinkesempatan bercinta dengan sang penjaja cinta semi profesional ini menjadi takberarti.

Batas waktu pukul 02.00 tak begitu merisaukan bagi seorang lajang seperti Reno untuk menikmati tubuh mulus sang model baru. Yang mungkin jadi masalah adalah bagaimana mendapatkan buruannya. Meski berpengalaman dengan wanita-wanita pemuas nafsu, belum sekalipun dia melakukannya dengan model. Bagaimana pun pendekatannya berbeda satu sama lain.

No comments: